Fakta Unik Kemiripan Witan Sulaeman dan Stefano Lilipaly, yang Jadi Momok bagi Taiwan

Kenyataan unik tersaji dari bintang tim nasional U-19 serta tim nasional U-23 Indonesia yang sama-sama bisa mencatat pencapaian kala bertemu Taiwan di turnamen yang lain pada ajang Asia.

Ya, tim nasional U-19 Indonesia belum lama meraih kejayaan usai menghajar tim nasional U-19 Taiwan dengan kedudukan 3-1 di pertandingan perdana Grup A Piala Asia U-19 2018 pada Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta di Kamis (18/10).

Witan Sulaeman jadi aktor vital pada kembali 3 skor tim Garuda Nusantara menuju gawang Taiwan. Tidak tanggung-tanggung, 2 skor serta 1 umpan bisa dibukukan Witan di pertandingan itu.

Bersama hasil positif itu, tim besutan Indra Sjafri layak menempati pucuk klasemen Grup A bersama raihan 3 angka.

Tetap lekat di dalam ingatan kita, bagaimana performa Stefano Lilipaly di pertandingan perdana tim nasional U-23 Indonesia pada Asian Games 2018.

Ketika itu, tim Garuda Muda yang dipimpin Luis Milla bisa menghajar tim nasional U-23 Taiwan bersama kedudukan telak 4-0 di pertandingan pertama Grup A pada Stadion Patriot Chandrabhaga, Wilayah Bekasi di 12 Agustus 2018.

Serupa halnya bersama Witan, Stefano Lilipaly jadi aktor vital goal tim nasional U-23 Indonesia di pertandingan itu. Lilipaly pun mencatat 2 skor serta 1 umpan melalui 4 goal tim Garuda Muda menuju gawang Taiwan.

Kenyataan itu dapat jadi gambaran seorang Witan seperti waktu muda Lilipaly pada tim nasional Indonesia.

Apabila Witan acap kali diposisikan menjadi salah satu pemain sayap, Lilipaly setingkat lebih kerap jadi striker bayangan pada tim nasional U-23 Indonesia.
Masih tersisa banyak laga sedang untuk Witan guna menyamai rekor seniornya itu di kompetisi sepakbola pada ajang Asia.

Menurut terdeteksi, Lilipaly bareng Alberto Goncalves jadi penyumbang goal paling banyak Garuda Muda di Asian Games 2018 bersama raihan sendiri-sendiri menyarangkan 4 goal.

Bukanlah tak kemungkinan Witan dapat meneruskan pencapaian Lilipaly pada turnamen yang lain, yakni Piala Asia U-19 2018.

Sekarang, tim nasional U-19 Indonesia tengah seharusnya menuntaskan 2 pertandingan pada penyisihan grup guna menegaskan diri melaju menuju fase perempat-final Piala Asia U-19 2018.

Bintang Genoa Buat Juventus dan Inter Milan Gigit Jari

Keinginan Juventus serta Inter Milan untuk menggaet ujung tombak Genoa, Krzysztof Piatek, rasa-rasanya cuma bakal bersemayam di awang-awang.

Penampilan bagus Krzysztof Piatek mencuri atensi 2 tim Serie A Italia, Juventus serta Inter Milan. Sebab, Piatek bisa menghajar deretan striker papan atas Serie A dalam urusan menyarangkan goal.

Sampai giornata ke-8 Serie A, Krzysztof Piatek dengan cara soliter unggul lis top skorer Serie A Italia dengan sembilan goal melalui 7 pertandingan yang dia lakoni.

Sedangkan bintang paling mahal sepanjang sejarah Serie A punya Juventus, Cristiano Ronaldo, baru dapat mencetak 4 goal sepanjang ini meski telah memainkan 8 laga.

Setingkat lebih keren lagi, Piatek telah mencetak 13 goal pada 2 turnamen yang dilakoni Genoa, yaitu Serie A Italia serta Coppa Italia, dengan jumlah performa yang hanya 8.

Tapi, legenda Juventus, Zbigniew Boniek, memperhitungkan jika striker berusia 23 tahun dari Polandia ini akan tinggal di Genoa, setidak-tidaknya sampai 2 kampanye musim ke depan.

“Pergi menuju Inter ataupun Juve di bursa transfer Januari 2019? Tentu tak, ” tutur Boniek pada Sport Mediaset. “Jika Kamu meminta aku buat memberikan petuah, maka bakal aku ucapkan jika dia seharusnya tinggal sepanjang 2 musim di Genoa.

Legenda yang memperkuat Juventus dalam kurun 1982-1985 ini memperhitungkan jika Piatek seharusnya menggunakan waktu guna berkembang serta meningkat lebih dulu.

Apalagi, itu merupakan kampanye musim perdana untuk Piatek di Serie A usai pindah dari Liga Polandia. Baru di 2 musim lagi, Piatek dapat lebih leluasa menentukan opsi masa depan kariernya. “Pada umur 25 tahun, dia seharusnya angkat kaki kemana pun yang dia ingin, ” tutupnya.

Fakta! Musim Ketiga Jadi Hal Buruk untuk Mourinho

Jose Mourinho terancam ditendang oleh Manchester United. Torehan hasil-hasil negatif Manchester United di pekan-pekan pertama Liga Premier Inggris serta Liga Champions musim ini menjadikan posisi juru tak-tik berjulukan The Special One ini tak kembali aman.

Satu situasi yang sukar bisa dibayangkan sebelumnya. Dengan masih terikat kesepakatan kontrak hingga 2020, Mourinho sebenarnya ditunjuk Manchester United jadi The Next Sir Alex Ferguson.

Namun begitu, kejadian negatif itu sebenarnya telah dapat diprediksi. Hal itu lantaran, ada kutukan bagi Mourinho di kampanye musim ke-3 nya melatih satu tim.

Di dalam karier Mourinho, khususnya semenjak ia mendeklarasikan diri menjadi “The Special One” di 2004 kala mulai melatih Chelsea, juru tak-tik dari Portugal itu terus menemui soal di kampanye musim ke-3 nya pada tim.

Bersama Chelsea, usai cemerlang dengan memenangi Liga Premier Inggris musim 2004-2005 serta 2005-2006, Mourinho menemui masalah di kampanye musim ke-3 nya, 2006-2007.

Rivalitas kekuatan dengan Direktur Olahraga Frank Arnesen serta penasihat Piet de Visser menjadikan mantan pelatih Real Madrid ini mulai cekcok dengan pemilik Chelsea, Roman Abramovich.

Perekrutan Andriy Shevchenko, di mana Mourinho diperintahkan Abramovich guna terus mengedepankan ujung tombak dari Ukraina ini, plus pembelian Avram Grant menjadi direktur olahraga, makin tambah memanas koneksi The Special One bersama Abramovich.

Mourinho tak ditendang di musim 2006-2007, namun kejadian ini pada akhirnya berlangsung di musim 2007-2008 mengingat hasil-hasil negatif di kampanye musim itu.

Kutukan kampanye musim ke-3 tak menghampiri Mourinho di Inter Milan sebab ia cuma 2 musim di sana. Baru di Real Madrid kutukan itu berlangsung lagi.

Intrik bersama 2 bintang senior Real Madrid, Sergio Ramos serta Iker Casillas, dan dengan Cristiano Ronaldo, menjadikan pendukung Los Blancos terbagi jadi Mourinhistas serta Madridistas.

Saat kampanye musim ini selesai, Mourinho mengatakan 2012-2013 menjadi kampanye musim paling buruk selama kariernya.

Usai ini Madrid memutus kesepakatan kontrak Mourinho, yang sebenarnya belum lama diperpanjang hingga 2016.

Balik lagi menuju Chelsea, Mourinho berhasil kembali memenangi Liga Premier Inggris pada kampanye musim ke-2.

Namun, pada kampanye musim ke-3 ataupun lebih tepatnya 2015-2016, kutukan berlangsung lagi.

Chelsea kacau di Liga Premier Inggris bersama 9 kali menerima kekalahan cuma di dalam enam belas laga.

Jose Mourinho juga ditendang meski resminya disebut-sebut “berpisah atas dasar kontrak bersama”. Kampanye musim 2015-2016 diwarnai perselisihan Mourinho bersama staf medis tim, Eva Carneiro.

Gabung Manchester United, kampanye musim debut Mourinho di 2016-2017 amat baik dengan begitu saja berhasil memenangi Liga Europa serta Piala Liga. Kini pada kampanye musim ketiga, kutukan hadir lagi.

Cuma mendapat sepuluh angka dari 7 laga perdana di Liga Premier Inggris, pendukung United menyaksikan start yang serupa buruknya bersama kepelatihan David Moyes di 2013-2014.

Yang menarik, mirip insiden kutukan sebelum di Chelsea serta Real Madrid, kembali kampanye musim ke 3 pada Manchester United itu diwarnai perselisihan Mourinho bersama elemen tim.

Media-media Inggris mengatakan setidak-tidaknya Mourinho telah tidak sering mengatakan bersama Paul Pogba, Alexis Sanchez, serta Antonio Valencia.